Sunday, January 21, 2007

Mawar Untuk Ibu

Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang
akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal jauh 250 km darinya. Begitu
keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri trotoar jalan
sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh
gadis kecil, "Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya.
Tapi saya cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu
seribu."

Pria itu tersenyum dan berkata, "Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang
kau mau." Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah,
sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis
kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, "Ya
tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?"

Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu,
yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada
sebuah kuburan yang masih basah.

Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu.
Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya.
Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri
kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.

(diadaptasi dari: Rose for
Mama - C.W. McCall)

Sunday, January 14, 2007

Tidak Kebal Hukum

Taken from Republika.co.id

Suatu ketika khalifah Ali bin Abi Thalib kehilangan baju besi kesayangannya dalam sebuah perjalanan di malam hari. Keesokan harinya, ia mendapatinya berada pada seorang ahli zhimmi (non-Muslim) yang hendak menjualnya di pasar Kufah. ''Ini baju besiku yang terjatuh dari untaku,'' ujar Ali, di hadapan ahli zhimmi. ''Tidak, ia milikku, wahai Amirul Mukminin,'' katanya.

Ali tetap bersikukuh bahwa baju besi itu adalah miliknya dan belum pernah dijual atau dihibahkan kepada siapa pun. Ahli zhimmi itu kemudian meminta persengketaan itu diselesaikan melalui seorang hakim Kufah, yaitu Syuraih bin Al-Harits Al-Kindi. Ali pun sepakat untuk itu.

Keduanya menemuinya di peradilan. Hakim menanyakan persoalan menurut versi masing-masing. Kemudian ia menoleh kepada Ali dan memintanya untuk menghadirkan saksi.

Tapi hakim menolak salah satu saksi yang dihadirkan Ali, yaitu Hasan, anaknya. Ali menjawab, ''Subhanallah! Seorang yang dijamin akan menjadi penghuni surga (Hasan) kesaksiannya tidak diterima. Tidakkah engkau pernah mendengar Rasulullah SAW pernah menyatakan Hasan dan Husain adalah dua pemuda yang menjadi penghuni surga.'' Kata Sang Hakim, ''Benar, wahai Amirul Mukminin. Tapi sebagai hakim saya tidak membolehkan kesaksian seorang anak kepada ayahnya.''

Ketika Ali mengalihkan pandangannya kepada ahli zhimmi, ia berkata, ''Ambillah baju besi itu, karena aku tidak mempunyai saksi selain kedua orang itu.''

Ahli zhimmi itu kemudian menyatakan, ''Tapi aku bersaksi baju besi ini adalah milikmu, wahai Amirul Mukminin. Amirul Mukminin menghakimiku di depan hakimnya sendiri, sementara hakim memutuskan perkara dan memenangkanku!'' Ahli zhimmi itu kemudian bersaksi agama yang menyuruh hal tersebut pastilah benar. Setelah itu, ahli zhimmi menyatakan masuk Islam. Ali terharu dan menyatakan menghibahkan baju besi dan kuda untuknya.

Kisah tersebut memberi tiga pelajaran berharga kepada kita semua. Pertama, tidak ada orang yang kebal hukum, termasuk pemimpin tertinggi (Amirul Mukminin) saat itu, Ali Bin Abi Thalib. Dalam berperkara pemimpin tidak selamanya harus dimenangkan. Kekuasaan tidak dapat mengintervensi proses peradilan. Hukum tidak boleh tunduk kepada kekuasaan, tetapi harus membela kebenaran dan keadilan.

Kedua, keadilan hukum harus ditegakkan kepada siapun, termasuk kepada non-Muslim. Syuraih adalah hakim teladan yang mampu bersikap objektif dalam memutuskan perkara, meskipun yang berperkara itu adalah menantu Rasulllah SAW.

Ketiga, pentingnya kesadaran dan sikap taat terhadap putusan hukum. Ali dengan legowo mau menerima dan patuh terhadap keputusan hakim yang diangkat sendiri, Syuraih. Supremasi hukum memang harus ditegakkan dan dipatuhi oleh semua, tanpa pandang bulu.

Wednesday, January 10, 2007

Catatan Harian Seorang Pramugari

Taken from milist balita-anda


Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.
Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.
Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.
Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.
Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.
Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.
Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.
Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.
Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.
Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking. anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.
Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.
Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.
Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga.
Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.
Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang. Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.

Monday, January 1, 2007

Playboy dan Teori Jendela Pecah

Dikutip dari email yang bersumber dari

http://sepia.blogsome.com/2006/03/06/playboy-dan-teori-jendela-pecah/

Playboy dan Teori Jendela Pecah

Empat orang pemuda ditembak dalam kereta api bawah tanah. Si penembak
yang menyerahkan diri seminggu kemudian dielu-elukan masyarakat
sebagai pahlawan mereka. Goetz, si penembak itu, dijuluki
tabloid-tabloid sebagai "Pengawal Kereta Bawah Tanah" dan "Malaikat
Maut Bagi Penjahat". Memang para pemuda yang ditembak itu adalah
kelompok berandal pemeras yang sering melakukan kejahatan di kereta
api bawah tanah. Tetap saja si penembak tadi dihukum karena melakukan
main hakim sendiri. Rakyat marah, tapi tidak dapat berbuat apa-apa.
Hukum adalah hukum. Si penembak harus meringkuk dalam penjara.
Beberapa tahun kemudian terbukti para pemuda yang ditembak tersebut
adalah para pelaku kejahatan mulai dari pencurian, perampokan, hingga
penganiayaan. Salah seorang diantaranya yang bernama Ramseur, dua
tahun setelah penembakan tersebut dijatuhi vonis 25 tahun penjara
karena pemerkosaan, perampokan, sodomi, pelecehan seksual,
penganiayaan, kejahatan bersenjata api, dan pemilikan barang curian.
Sulit menerima bahwa yang dulu dianggap korban kekerasan ini ternyata
juga pelaku kekerasan. Demikianlah potret buram fasilitas subway di
New York tahun 1984. Masyarakat takut menggunakan kereta bawah tanah
yang suram penuh coretan grafiti, kotor, dan banyak banditnya.
Masyarakat dan pemerintah sama frustasinya dengan kondisi buruk itu.
Selama tahun 80-an kriminalitas di New York City mencapai rata-rata
lebih dari 2000 pembunuhan dan 600.000 tindak kekerasan serius dalam
setahun.

Namun secara mendadak situasi tersebut berubah drastis di awal tahun
90-an. Di tahun 1996 kejahatan menurun drastis menjadi sepertiga.
Kekerasan di kereta bawah tanah bahkan turun sebanyak 75 persen.
Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Jendela Pecah

Untuk kasus kereta bawah tanah penurunan ini dimulai dari penerapan
teori Jendela Pecah (Broken Windows) yang digagas oleh kriminolog
James Q. Wilson dan George Kelling. Wilson dan Kelling berpendapat
bahwa kriminalitas merupakan akibat tak terelakkan dari
ketidakteraturan. Jika sebuah jendela rumah pecah dan dibiarkan saja,
siapapun yang lewat cenderung menyimpulkan pastilah di situ tidak ada
yang peduli atau bahwa rumah itu tidak berpenghuni. Dalam waktu
singkat akan ada lagi jendelanya yang pecah, dan belakangan berkembang
anarki yang menyebar ke sekitar tempat itu. Di sebuah kota, awal yang
remeh seperti coret-coret, ketidakteraturan, dan pemalakan, kata
kriminolog itu, semua setara dengan jendela pecah, yaitu ajakan untuk
berbuat kejahatan lebih serius.

Pemalak dan penodong, entah amatiran atau profesional, percaya bahwa
peluang mereka untuk tertangkap atau diadukan ketika beroperasi di
jalanan berkurang bila mereka memberikan ancaman yang cukup kepada
calon korban. Jika masyarakat di suatu tempat tidak mampu mengatasi
pemalak yang beroperasi di jalanan, pencuri dan perampok pun akan
berkesimpulan bahwa orang di situ tidak akan langsung menghubungi
polisi atau mengadukan mereka andaikata kejahatan itu mereka
laksanakan.

Ini sebuah teori epidemi untuk kejahatan. Menurut teori ini kejahatan
bersifat menular - persis seperti trend mode pakaian - sehingga dengan
awal yang remeh seperti memecah sebuah kaca jendela, perbuatan yang
sama segera menyebar ke seluruh wilayah.

Pada pertengahan 80-an, kriminolog George Kelling disewa oleh New York
Transit Authority sebagai konsultan, maka ia meminta jawatan itu untuk
menerapkan teori Broken Windows di jaringan kereta bawah tanah.
Direktur baru yang ditunjuk mengurus hal itu, David Gunn, menerapkan
teori tersebut dengan fokus melawan grafiti di kereta bawah tanah.
Banyak pejabat di direktorat kereta bawah tanah yang menganjurkan agar
dia lebih memusatkan perhatian kepada kejahatan yang lebih serius
daripada mengurus masalah corat-coret. Gunn tetap bertahan,
"Coret-coret ini merupakan simbol keambrukan sistem ini," katanya.

Maka Gunn melancarkan aksi melawan corat-coret. Dia tahu bahwa remaja
yang melakukan grafiti memerlukan 3 hari untuk memoles dinding gerbong
dengan cat putih, menunggu kering, dan menggambarnya di hari ketiga.
"Begitu mereka selesai menggambar, malamnya kami cat lagi gerbong
tersebut sehingga keesokan harinya tak ada yang sempat melihat karya
mereka," demikian kata Gunn. Ketika sebuah gerbong dicorat-coret, maka
corat-coret itu dihilangkan selama masa istirahat, atau gerbong itu
tidak dioperasikan dulu. Gagasan di balik kebijakan itu adalah
menyampaikan pesan yang gamblang kepada para vandal, bahwa mereka
tidak disukai.

Program pembersihan grafiti oleh Gunn sudah berlangsung sejak 1984
hingga 1990 saat Transit Authority mengangkat William Bratton sebagai
komandan polisi kereta bawah tanah yang baru. Seperti halnya Gunn,
Bratton juga penganut teori Broken Windows. Alih-alih fokus pada
kejahatan serius, dia justru fokus untuk membasmi kebiasaan remeh
yaitu naik kereta tanpa karcis. Menurutnya, naik kereta tanpa karcis
juga merupakan simbol ketidakteraturan yang menjadi pangkal
pelanggaran-pelanggaran yang lebih serius. Hasilnya luar biasa.
Penjagaan pada gerbang tiket menghasilkan penangkapan-penangkapan yang
tak diduga sebelumnya. Setiap penangkapan ibarat membuka kotak hadiah
yang penuh kejutan. Mainan apa yang didapat hari ini? Senjata api?
Pisau? Karcis palsu? Uang palsu? Bahkan kadang-kadang ada tersangka
pembunuhan. Tak lama kemudian orang-orang jahat mulai berpikir lebih
panjang, setidaknya meninggalkan senjatanya dan membayar karcis ketika
naik kereta.

Tahun 1994 Bratton diangkat menjadi Kepala Kepolisisan New York City
oleh walikota yang baru Rudolph Giuliani. Bratton tetap melakukan
strategi yang sama, memberantas perbuatan-perbuatan kecil yang
mengganggu ketentraman, termasuk bahkan menangkap para tukang lap kaca
mobil di perempatan jalan yang kemudian meminta uang jasa ke
pengendara. "Kami mulai menegakkan hukum dalam kasus-kasus ringan
seperti mabuk-mabukan di tempat umum, buang air kecil sembarangan,
termasuk membuang botol di jalanan," demikian kata Bratton. Ketika
kriminalitas mulai menurun di kota itu, secepat penurunan di kereta
bawah tanah, Bratton dan Giuliani menunjuk ke sebab yang sama.
Kejahatan-kejahatan kecil, pelanggaran-pelanggaran remeh, yang
lazimnya dianggap tidak signifikan, kata mereka, merupakan titik
lenting (tipping point) menuju kejahatan-kejahatan besar. Demikianlah
seperti dikutip dari buku Tipping Point tulisan Malcolm Gladwell.

Playboy sebagai simbol

Seperti yang dikatakan Gunn dan Bratton, corat-coret dan pelanggaran
tiket walaupun tampak kecil dan remeh sebenarnya adalah 'simbol'
keambrukan sistem. Bagaimana dengan kasus yang sedang marak tentang
ijin majalah Playboy Indonesia?

Yang menjadi masalah utama dengan Playboy bukan sekedar 'keberanian'
gambarnya. Kata pihak Playboy, ada majalah yang lebih vulgar dari
mereka toh juga diijinkan? Ya, boleh jadi ada majalah lain yang lebih
vulgar daripada Playboy, namun yang menjadi esensi keberatan
masyarakat luas sebenarnya dipicu oleh posisi Playboy sebagai simbol.
Playboy adalah 'simbol dunia' majalah erotisme (dan memang itulah yang
diinginkan pendirinya). Brand name Playboy identik dengan erotisme,
apapun isi di dalamnya apakah mungkin teknologi, tips kesehatan, atau
apapun yang saya tidak tahu. Begitu disebut Playboy, maka yang
tergambar dalam benak masyarakat luas adalah kontes aurat dan
erotisme.

Playboy adalah simbol budaya erotisme. Mengijinkan Playboy versi
Indonesia - walaupun misalnya hanya untuk kalangan terbatas - sama
halnya mengesahkan simbol budaya erotisme itu untuk menjadi budaya sah
bangsa Indonesia. Dengan kata lain, bila Playboy diijinkan maka secara
sah kita mengakui bahwa nilai luhur bangsa ini bukan lagi agama,
karena tak ada agama yang mengesahkan erotisme sebagai suatu nilai
luhur. Ada sementara pihak yang berlindung dengan dalih nilai seni.
Dalam hal ini kita perlu tegas bahwa nilai seni erotisme bukanlah
nilai luhur agama. Selama nilai seni tidak bertentangan dengan agama
maka nilai tersebut sah-sah saja sebagai nilai luhur bangsa. Namun
'nilai seni erotisme' jelas bertentangan dengan nilai luhur agama.
Selain itu, menyamakan nilai seni erotisme dengan seni yang lain sama
saja dengan merendahkan masyarakat seni.

Mengapa kita menjunjung nilai luhur agama sebagai nilai bangsa? Karena
inilah dasar hukum utama negara kita yang dituangkan lewat Pancasila
sila pertama. Semua hukum di Indonesia harus tunduk kepada nilai hukum
dasar negara ini.

Apa akibatnya bila Playboy Indonesia diijinkan? Kembali ke teori
Broken Windows, hal remeh ini akan menjadi awal uji kasus untuk
memberi toleransi kepada bisnis dan budaya erotisme yang lebih dahsyat
karena Playboy adalah simbol utama erotisme. Boleh jadi nantinya akan
terjadi tuntutan hak oleh sebagian kalangan (dengan dalih hak asasi)
untuk membuka klub striptease dan semacamnya yang jelas-jelas semakin
merusak moral bangsa kita ini. Ijin Playboy Indonesia bisa menjadi
tipping point keruntuhan moral bangsa.

Tapi, bukannya Playboy ini direncanakan hanya beredar di kalangan
terbatas? Kita harus kembali ingat teori Broken Windows bahwa menurut
teori ini kejahatan bersifat menular - persis seperti trend mode
pakaian - sehingga dengan awal yang remeh seperti memecah sebuah kaca
jendela, perbuatan yang sama segera menyebar ke seluruh wilayah.
Playboy ibarat kaca pecah. Sangat mungkin dengan diijinkannya Playboy
akan merembet ke seluruh lapisan masyarakat sebagai pembenaran
kolektif bahwa nilai erotisme sudah diterima sebagai nilai luhur
budaya bangsa ini. Yang terbatas awalnya hanya pembacanya, padahal di
balik itu ada percetakan, model, agency, penulis, distribusi, dan
berkali lipat orang lainnya yang terlibat. Bagaimana halnya dengan
majalah Palyboy bekas? Bagaimana dengan para pengantarnya? Bagaimana
dengan para pedagangnya? Yang dianggap terbatas itu hanyalah puncak
gunung es dari komunitas yang jauh lebih besar. Kelompok khusus
penikmat erotisme ini sebenarnya tak perlu dikasihani. Selama ini
mereka sudah mencarinya dengan berbagai cara, sama sekali tak perlu
dikasihani dengan majalah erotis versi resmi Indonesia.

Belum Mampu Tak Berarti Setuju

Seringkali ketidakmampuan sistem dimanfaatkan sebagian pihak sebagai
dalih hukum. Misalnya, karena tidak mampu menanggulangi prostitusi,
maka dilegalkan saja menjadi lokalisasi. Demikian pula ketidakmampuan
sistem saat ini untuk menanggulangi majalah kuning dan tayangan erotis
di televisi digunakan sebagian pihak menjadi dalih kelayakan Playboy
dan majalah semacamnya.

Harus terus kita ingat bahwa tidak mampu bukan berarti setuju! Selama
ribuan tahun telah terjadi prostitusi, tapi bukan berarti kita berhak
melegalkan prostitusi. Selama ribuan tahun terjadi kejahatan, bukan
berarti lalu kita legalkan kejahatan. Dan kini kita belum mampu
menanggulangi gelombang budaya erotisme, bukan berarti lalu kita
melegalkannya. Hukum harus tegas dan punya acuan dasar yang jelas. Di
negeri ini kita bisa merujuk dasar negara dan undang-undang dasar
sebagai acuan nilai, jika pun kita ragu dengan universalitas nilai
luhur agama. Bagi orang dengan kecerdasan spiritual (SQ) tinggi,
ditinjau dari dasar-dasar hukum itu sudah jelas bahwa erotisme tak
layak menjadi nilai luhur bangsa ini. Nilainya sama halnya dengan
penyalahgunaan narkotika yang selamanya tak akan diakui agama sebagai
nilai luhur.

Dengan tulisan ini kiranya wakil rakyat di DPR dan juga pemerintah
menjadi semakin yakin untuk lebih tegas menolak ijin Playboy tersebut.
Ini bukan masalah remeh karena bisa memicu bencana moral yang besar.
Bangsa ini sudah kehilangan banyak hal untuk dibanggakan, semoga tidak
dibuat semakin kehilangan jati diri.